2.8.11

1432 H

“Ramadhan datang alam pun riang
menyambut bulan yang berkah
umat berdendang kumandang adzan
pertanda hati yang senang..”
(Ramadhan Datang-Tompi)

Alhamdulillah, masih berjodoh dengan bulan ramadhan kali ini. Saya selalu rindu bulan ramadhan, bulan seribu bulan, bulan diturunkannya Al-Quran, bulan yang di dalamnya terdapat malam lailatul qadar. Selalu ada cerita berbeda di setiap ramadhan yang saya lewati.

Setahun lalu, saya ingat betul suasananya. Sibuk, tidak fokus, dan melelahkan. Entah kenapa saya merasa tahun lalu itu ramadhan terburuk yang pernah saya jalani. Tahun pertama di arsitektur, masih sangat terbebani dengan segala tugas dan kegiatan kampus. Maaf ya Allah :(

Dua tahun lalu, sangat penuh doa. Doa supaya saya bisa masuk jurusan arsitektur. Saya benar-benar berdoa pada saat itu. Dan satu lagi, ramadhan kali itu menyisakan tangis juga. Antara pengucapan syukur dan penyesalan. Yang pasti, ramadhan kali itu adalah masa pemulihan buat saya.

Tiga tahun lalu, lebih banyak doa yang dipanjatkan. Mungkin doa paling serius yang pernah saya panjatkan selama hidup saya. Berdoa sampai lelah, berdoa sampai cengeng. Karena saat itu ada 1 tujuan yang sangat ingin saya capai: ITB. Alhamdulullah Allah masih mau mendengarkan doa saya.

Empat tahun lalu, ramadhan penuh kebimbangan. Setiap sholat tarawih di masjid, saya selalu bertanta-tanya: “ Apa yang sudah saya lakukan?” Pada saat itu saya merasa sangat-sangat kecil di hadapan-Nya. Saya merasa belum pernah melakukan apapun untuk-Nya. Setelah keyakinan dan ketidakyakinan  memenuhi hati saya dan berbagai macam pikiran bergelut dalam otak saya, akhirnya segala kebimbangan itu berujung kepastian. Alhamdulillah, ramadhan kali itu memberikan hidayahnya pada saya. Sejak hari itu saya yakin untuk menutup rambut saya. Alhamdulillah.

Lima tahun, enam tahun, tujuh tahun, delapan tahun, dan bertahun-tahun yang lalu, saya sudah tidak ingat. Yang pasti, ramadhan selalu memberikan berkahnya pada saya. Oh ya, saya ingat momen-momen ramadhan saat saya masih kecil. Saat yang saya tahu kalau puasa itu hanyalah menahan lapar dan haus saja. Saya sudah rajin puasa loh dari kecil. Tapi yang paling saya ingat adalah puasa saya itu selalu berakhir dengan sakit, gejala thypus paling sering. Saat penghujung ramadhan tiba, saat orang-orang sedang di puncak kebahagiaan karena akan menghadapi hari kemenangan, biasanya saya hanya bisa terbaring lemah di kasur. Bagaikan ritual, tragedi ‘sakit di ujung ramadhan’ itu selalu terjadi setiap tahun. Maaf ya Ibu, maaf ya Ayah, selalu bikin repot di akhir ramadhan. Sekarang saya sudah kuat kok! Dan sekarang puasanya Insya allah bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus saja.

Bulan suci ramadhan. Selalu dikultuskan dimana-mana, selalu disambut dengan suka cita. Saya pun begitu. Bukan cuma euphoria sesaat kok, saya memang benar-benar merasa senang tiap kali ramadhan datang. Bismillah untuk hari-hari yang akan dijalani ke depannya. Semoga ramadhan kali ini masih memberikan arti tersendiri bagi hidup saya. Semoga kita menjadi insan yang lebih baik lagi. Amien.

No comments:

Post a Comment